Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali menjadi sorotan pada perdagangan Rabu, 16 September 2026. Setelah tertekan cukup dalam akibat pengumuman force majeure terkait belum terbitnya persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, saham BYAN berbalik menguat tajam hingga mencapai batas auto rejection atas (ARA).
Pada perdagangan pagi, BYAN sempat menguat 19,85% ke level Rp12.225 per saham. Kenaikan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya saham Bayan Resources ditutup anjlok 8,11% di level Rp10.200 per saham. Pergerakan yang sangat tajam membuat BYAN menjadi salah satu saham yang paling diperhatikan investor pada perdagangan hari ini.
Penguatan saham BYAN juga terjadi ketika IHSG berbalik arah ke zona hijau. IHSG yang sempat dibuka melemah ke 6.453,91 kemudian naik sekitar 1% ke level 6.526,81 pada pagi hari. Sektor energi menjadi salah satu penopang utama penguatan indeks, dengan kenaikan sekitar 5,49%.
Meski sahamnya kembali melesat, persoalan utama yang dihadapi Bayan Resources belum sepenuhnya selesai. Tiga anak usaha BYAN, yaitu PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, sebelumnya menyampaikan pemberitahuan keadaan kahar atau force majeure kepada pelanggan akibat persetujuan perubahan RKAB 2026 yang belum diterbitkan.
Kondisi tersebut membuat ketiga anak usaha mengalami keterbatasan dalam memenuhi kewajiban pasokan batu bara berdasarkan perjanjian dengan pelanggan. Manajemen BYAN menyatakan bahwa permohonan perubahan RKAB telah diajukan sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, persetujuannya masih menunggu proses pemerintah.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Rabu, 16 September 2026, memberikan perkembangan terbaru mengenai persoalan tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara ESDM Tri Winarno mengatakan evaluasi revisi RKAB tiga anak usaha Bayan masih berlangsung dan diharapkan dapat diselesaikan pada pekan ini.
Menurut Tri, terdapat sejumlah hal yang masih perlu dicermati sebelum persetujuan perubahan RKAB diterbitkan. Ia juga menyebut masih ada beberapa perusahaan lain yang persetujuan RKAB-nya belum diterbitkan, meskipun jumlahnya disebut tidak sampai 50 perusahaan.
Persoalan RKAB menjadi perhatian penting karena izin tersebut dibutuhkan agar perusahaan dapat menjalankan kegiatan produksi batu bara secara sah. Keterlambatan persetujuan secara langsung berpengaruh terhadap kemampuan BYAN dan anak usahanya dalam memenuhi kontrak pasokan kepada pelanggan.
Tekanan terhadap saham BYAN sebelumnya juga cukup besar. Berdasarkan data perdagangan hingga 15 September 2026, harga saham Bayan Resources telah turun sekitar 41% sejak 19 Agustus 2026. Penurunan tersebut terjadi setelah pasar menghadapi sejumlah sentimen, mulai dari isu rencana akuisisi saham hingga pengumuman force majeure akibat persoalan RKAB.
Selain isu RKAB, pasar juga sebelumnya ramai memperbincangkan kabar mengenai rencana akuisisi sekitar 62% saham BYAN oleh pihak yang dikaitkan dengan pengusaha Haji Isam. Namun, informasi tersebut masih berupa isu dan belum menjadi transaksi akuisisi yang telah diselesaikan.
Pergerakan BYAN kemudian menjadi semakin menarik karena terjadi pembalikan harga yang cepat. Pada perdagangan Selasa, saham tersebut sempat turun hingga Rp10.200 per saham. Sehari setelahnya, BYAN justru melesat ke Rp12.225 dan mencapai ARA. Bloomberg Technoz mencatat kapitalisasi pasar BYAN ikut kembali meningkat setelah sebelumnya turun ke sekitar Rp340 triliun.
Dari sisi operasional, persoalan produksi menjadi faktor yang masih perlu diperhatikan. Data yang dikutip IDNFinancials menunjukkan Bayan Resources memproduksi sekitar 68 juta ton batu bara sepanjang 2025. Namun, analis juga menyoroti adanya tekanan akibat kuota produksi 2026 yang lebih rendah dibandingkan realisasi produksi tahun sebelumnya.
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fauzan Luthfi Djamal sebelumnya menyebut kuota produksi BYAN yang disetujui untuk 2026 berada di sekitar 38 juta ton, jauh di bawah produksi 2025 yang mencapai sekitar 68 juta ton. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi prospek operasional perusahaan apabila tidak terdapat penyesuaian kuota.
Di pasar saham, lonjakan BYAN pada Rabu turut memberikan dorongan terhadap sektor energi dan membantu IHSG melakukan pembalikan arah setelah pembukaan yang sempat negatif. Namun, pergerakan saham BYAN masih sangat fluktuatif sehingga investor menghadapi sejumlah sentimen yang berjalan bersamaan, terutama perkembangan RKAB, kemampuan produksi, kondisi pasar batu bara, serta dinamika isu akuisisi.
Dengan evaluasi RKAB masih berlangsung dan ESDM menargetkan prosesnya dapat selesai pekan ini, perkembangan persetujuan tersebut menjadi salah satu katalis yang akan diperhatikan pasar. Respons harga saham BYAN dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa setiap perkembangan terkait operasional dan regulasi perusahaan dapat memberikan pengaruh besar terhadap pergerakannya.



Komentar