Bisnis Keuangan
Home » Indeks » Saham BBCA Hari Ini Melemah, Tapi Asing Justru Borong Rp2,14 Triliun

Saham BBCA Hari Ini Melemah, Tapi Asing Justru Borong Rp2,14 Triliun

Saham BBCA Hari Ini Melemah, Tapi Asing Justru Borong Rp2,14 Triliun
Saham BBCA Hari Ini Melemah, Tapi Asing Justru Borong Rp2,14 Triliun

Saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA bergerak melemah pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Pada penutupan sesi pertama, saham BBCA turun 1,55 persen ke level Rp6.350 per saham. Tekanan tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terkoreksi 0,69 persen ke 6.480,64.

Pergerakan BBCA hari ini menjadi perhatian karena terjadi setelah investor asing justru menunjukkan minat besar terhadap saham bank tersebut sepanjang beberapa pekan terakhir. Pada periode 1 Juli hingga 21 Agustus 2026, akumulasi net buy asing di BBCA mencapai Rp2,14 triliun.

Saham BBCA Turun ke Rp6.350

Mengacu pada perdagangan sesi pertama Senin, saham BBCA dibuka stagnan di Rp6.450. Namun, tekanan jual kemudian membawa harga turun hingga Rp6.350 yang sekaligus menjadi level terendah pada sesi tersebut.

Frekuensi transaksi BBCA tercatat sebanyak 11.728 kali dengan volume sekitar 348.242 saham. Nilai transaksi mencapai Rp222,4 miliar, sementara kapitalisasi pasar BCA berada di kisaran Rp782,80 triliun.

Koreksi saham BBCA juga sejalan dengan tekanan yang terjadi pada sektor keuangan. Pada sesi pertama, indeks sektor keuangan turun 0,93 persen. Secara keseluruhan, sebanyak 370 saham melemah, 233 saham menguat, dan 186 saham tidak mengalami perubahan.

FTSE Russell Coret 29 Saham RI dari Indeks Global, Investor Asing Makin Waspada

Asing Malah Borong Saham BBCA

Di balik pelemahan harga pada awal pekan, aliran dana asing ke BBCA justru menunjukkan tren positif.

Pada periode perdagangan 18 hingga 21 Agustus 2026, investor asing mencatat net buy BBCA sebesar Rp409,05 miliar. Angka tersebut menempatkan BBCA sebagai salah satu saham dengan pembelian bersih asing terbesar pada pekan tersebut, hanya berada di bawah BBRI.

Lebih panjang lagi, akumulasi net buy asing pada BBCA sejak 1 Juli hingga 21 Agustus 2026 telah mencapai Rp2,14 triliun. Kondisi ini menunjukkan perubahan sentimen dibandingkan periode sebelumnya ketika saham BCA lebih banyak menghadapi tekanan jual dari investor asing.

Pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, investor asing juga mencatat net buy BBCA sebesar Rp269,09 miliar. Saham BBCA pada hari yang sama ditutup di level Rp6.450 per saham.

BBCA Menguat 1,57 Persen dalam Sepekan

Sebelum terkoreksi pada Senin, saham BBCA mencatat kinerja positif sepanjang pekan sebelumnya.

Saham Strategy Melonjak 7,5 Persen, Bitcoin Pulih Meski Perusahaan Berhenti Beli BTC

Pada periode 18 hingga 21 Agustus, saham BBCA menguat sekitar 1,57 persen dan berakhir di Rp6.450 pada perdagangan Jumat. Penguatan tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya pembelian bersih investor asing.

Dengan demikian, pelemahan pada sesi pertama 24 Agustus belum serta-merta menghapus tren positif yang terbentuk dalam beberapa pekan terakhir. Investor kini akan mencermati apakah tekanan tersebut hanya bersifat jangka pendek atau menjadi awal perubahan arah saham BBCA.

Ada Dividen Interim Rp3,07 Triliun

Selain arus dana asing, perhatian investor terhadap BBCA juga datang dari kebijakan pembagian dividen interim.

BCA telah menetapkan dividen interim kedua untuk tahun buku 2026 sebesar Rp3,07 triliun. Nilai tersebut setara dengan Rp25 per saham.

Cum date dividen interim di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 28 Agustus 2026. Pemegang saham yang berhak menerima dividen akan ditentukan berdasarkan daftar pemegang saham pada 1 September 2026 pukul 16.00 WIB, sedangkan pembayaran dividen dijadwalkan pada 16 September 2026.

Trump Dorong Clarity Act, Saham Kripto Coinbase dan Circle Melonjak

Kebijakan dividen tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan perhatian investor terhadap saham BBCA menjelang akhir Agustus.

Kinerja Laba BBCA Tetap Menjadi Perhatian

Fundamental perusahaan juga menjadi alasan mengapa BBCA masih banyak diperhatikan investor.

Laba bersih bank only BCA pada Januari hingga Juli 2026 tercatat sekitar Rp35,3 triliun. Angka tersebut tumbuh 2 persen secara tahunan dan disebut telah mencapai sekitar 58 persen dari proyeksi MNC Sekuritas untuk tahun 2026.

Khusus Juli 2026, laba bersih BBCA mencapai Rp5,1 triliun. Angka tersebut meningkat 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan naik 12 persen dibandingkan Juni 2026.

Pendapatan bunga bersih pada Juli mencapai Rp7,1 triliun, tumbuh 4 persen secara tahunan dan 6 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Pertumbuhan Kredit Masih Dihadapkan pada Tekanan NIM

Meski kinerja laba tetap tumbuh, BBCA juga menghadapi tantangan dari sisi margin bunga bersih atau net interest margin.

Pertumbuhan kredit BBCA mencapai sekitar 8 persen secara tahunan, tetapi sebagian dampaknya terkompensasi oleh tekanan terhadap NIM. Pada Juli 2026, NIM membaik 30 basis poin menjadi 5,5 persen dari 5,2 persen pada Juni.

Namun, jika dihitung secara kumulatif selama tujuh bulan pertama 2026, NIM masih turun 20 basis poin menjadi 5,5 persen dari 5,7 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor karena perubahan margin dapat memengaruhi kemampuan bank dalam mempertahankan pertumbuhan pendapatan bunga.

Analis Masih Melihat Potensi BBCA

Di tengah pergerakan saham yang melemah pada awal pekan, Kiwoom Sekuritas Indonesia memasukkan BBCA dalam rekomendasi teknikal untuk perdagangan 24 Agustus.

Area entry buy yang diberikan berada di kisaran Rp6.400 hingga Rp6.500. Target harga berada pada Rp6.800 hingga Rp6.900, sementara area support berada di Rp6.300 hingga Rp6.350. Batas cut loss ditempatkan di bawah Rp6.275.

Sementara itu, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk BBCA dengan target harga Rp8.700. Target tersebut menggunakan asumsi valuasi price to book value atau PBV sebesar 3,4 kali untuk estimasi 2026 dan 3 kali untuk proyeksi 2027.

Rekomendasi tersebut tentu bukan jaminan bahwa harga saham akan langsung mencapai target. Investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasar, valuasi, kinerja keuangan dan risiko makroekonomi sebelum mengambil keputusan.

IHSG Ikut Tertekan pada Awal Pekan

Pergerakan BBCA juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar secara keseluruhan. Pada sesi pertama perdagangan 24 Agustus, IHSG turun 0,69 persen ke level 6.480,64.

Indeks LQ45 juga terkoreksi 0,92 persen menjadi 638,64. Tekanan terjadi di sebagian besar sektor, dengan sektor kesehatan mengalami penurunan paling dalam sebesar 2,31 persen. Sektor keuangan turun 0,93 persen, sedangkan sektor energi terkoreksi 0,32 persen.

Tekanan pasar tersebut membuat pelemahan BBCA pada Senin tidak dapat dibaca hanya sebagai perubahan sentimen terhadap BCA. Pergerakan IHSG dan sektor perbankan juga menjadi faktor penting yang memengaruhi harga saham.

Apa yang Perlu Dicermati Investor?

Saham BBCA saat ini berada dalam situasi yang cukup menarik. Di satu sisi, harga saham turun pada sesi pertama perdagangan 24 Agustus. Namun, di sisi lain, investor asing justru mencatat akumulasi pembelian dalam jumlah besar sejak Juli.

Dividen interim Rp25 per saham, kinerja laba yang masih tumbuh, serta rekomendasi positif dari sejumlah analis menjadi faktor yang mendukung sentimen terhadap BBCA. Sebaliknya, tekanan NIM, kondisi IHSG dan volatilitas pasar tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan.

Bagi investor, level Rp6.300 hingga Rp6.350 menjadi area penting dalam melihat pergerakan jangka pendek BBCA. Jika mampu bertahan di area tersebut, peluang pemulihan harga masih terbuka. Namun, apabila tekanan jual semakin kuat dan level support ditembus, investor perlu mencermati potensi perubahan tren.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *