Bisnis Keuangan
Home » Indeks » FTSE Russell Coret 29 Saham RI dari Indeks Global, Investor Asing Makin Waspada

FTSE Russell Coret 29 Saham RI dari Indeks Global, Investor Asing Makin Waspada

FTSE Russell Coret 29 Saham RI dari Indeks Global, Investor Asing Makin Waspada
FTSE Russell Coret 29 Saham RI dari Indeks Global, Investor Asing Makin Waspada

Pasar modal Indonesia kembali mendapat perhatian setelah FTSE Russell mengumumkan perubahan komposisi indeks globalnya. Dalam evaluasi terbaru, sebanyak 29 saham Indonesia dikeluarkan dari konstituen FTSE Global Equity Index Series atau FTSE GEIS. Keputusan ini menjadi sorotan karena dilakukan ketika pasar saham domestik masih menghadapi tekanan dari kebijakan indeks global dan kekhawatiran mengenai arus dana asing. Perubahan tersebut dijadwalkan efektif pada Senin, 21 September 2026, berdasarkan harga pembukaan, sedangkan proses rebalancing akan dilakukan pada Jumat, 18 September 2026 berdasarkan harga penutupan.

Daftar 29 Saham yang Dicoret FTSE Russell

Sebanyak 29 emiten Indonesia masuk dalam daftar saham yang dikeluarkan dari indeks FTSE. Daftar tersebut terdiri dari PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII), PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO), PT Bank Victoria International Tbk (BVIC), PT Cardig Aero Services Tbk (CASS), PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN), PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS), PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), PT Intiland Development Tbk (DILD), PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE), PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON), PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED), PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA), PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI), PT Medela Potentia Tbk (MDLA), PT Multipolar Tbk (MLPL), PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Panin Sekuritas Tbk (PANS), PT Paninvest Tbk (PNIN), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), PT Trans Power Marine Tbk (TPMA), dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).

Ada Saham yang Turun Kelas Kapitalisasi

Selain mencoret sejumlah saham dari indeks global, FTSE Russell juga melakukan perubahan klasifikasi kapitalisasi terhadap beberapa emiten Indonesia. Salah satu yang paling mencolok adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang turun dari kategori Mid Cap menjadi Micro Cap. Perubahan tersebut menjadi perhatian karena BSDE merupakan salah satu emiten properti besar yang berada dalam kelompok usaha Sinar Mas.

Sementara itu, sejumlah saham yang sebelumnya berada di kategori Small Cap turun ke Micro Cap. Di antaranya Bank Neo Commerce (BBYB), Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJBR), Bank BTPN Syariah (BTPS), Lippo Karawaci (LPKR), MDS Retailing (LPPF), Media Nusantara Citra (MNCN), Panin Financial (PNLF), Summarecon Agung (SMRA), dan Surya Citra Media (SCMA).

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) memiliki posisi berbeda karena setelah keluar dari kategori Small Cap, saham tersebut tidak masuk kembali ke kelompok Micro Cap. Dengan demikian, SILO menjadi salah satu emiten yang benar-benar keluar dari klasifikasi indeks FTSE pada evaluasi kali ini.

Saham Strategy Melonjak 7,5 Persen, Bitcoin Pulih Meski Perusahaan Berhenti Beli BTC

FTSE Russell Juga Tunda Penambahan Saham Baru

Keputusan FTSE Russell tidak hanya berkaitan dengan penghapusan saham. Penyedia indeks tersebut juga masih menunda penambahan konstituen baru dari pasar Indonesia. Penundaan ini menjadi bagian dari langkah FTSE Russell untuk memberikan waktu tambahan dalam mengamati efektivitas reformasi transparansi pasar modal Indonesia.

Penundaan tersebut turut mencakup sejumlah perubahan yang berkaitan dengan klasifikasi kapitalisasi, penambahan saham baru, serta penyesuaian bobot saham publik atau free float. Kondisi ini membuat peluang masuknya sejumlah emiten Indonesia ke indeks global harus menunggu evaluasi berikutnya.

Mengapa FTSE Russell Masih Menyoroti Pasar Indonesia?

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah transparansi kepemilikan saham dan tingkat konsentrasi kepemilikan pada sejumlah emiten. Bursa Efek Indonesia telah menjalankan sejumlah reformasi untuk meningkatkan keterbukaan informasi dan memperbaiki kualitas pasar, tetapi FTSE Russell masih membutuhkan waktu untuk melihat efektivitas perubahan tersebut.

BEI sebelumnya juga memperkuat pemantauan terhadap saham dengan kategori High Shareholding Concentration atau HSC. Informasi mengenai kepemilikan saham dan afiliasi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan transparansi serta membantu investor global menilai tingkat likuiditas dan kemudahan perdagangan suatu saham.

Dampaknya terhadap Investor Asing

Perubahan komposisi FTSE Russell dapat memengaruhi arus dana investor asing, terutama pengelola dana yang menggunakan indeks global sebagai acuan investasi. Ketika suatu saham dikeluarkan dari indeks, dana yang mengikuti indeks tersebut berpotensi melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi atau melepas kepemilikan saham terkait.

Trump Dorong Clarity Act, Saham Kripto Coinbase dan Circle Melonjak

Dampaknya tidak selalu berarti seluruh investor asing akan langsung keluar dari saham yang dicoret. Investor aktif tetap dapat mempertahankan atau bahkan menambah kepemilikan berdasarkan fundamental perusahaan. Namun, berkurangnya eksposur dari dana pasif dapat memengaruhi likuiditas dan tekanan jual pada saat proses rebalancing berlangsung.

Pasar Saham Indonesia Masih Menghadapi Tekanan FTSE dan MSCI

Keputusan terbaru FTSE Russell menambah tantangan bagi pasar modal Indonesia setelah sebelumnya MSCI juga menjadi perhatian investor. Penyedia indeks global memiliki peran penting dalam menentukan alokasi dana investasi institusional karena banyak pengelola portofolio menggunakan indeks sebagai salah satu dasar dalam menentukan komposisi aset.

Kondisi tersebut membuat investor mencermati perkembangan reformasi pasar modal Indonesia. Jika transparansi dan aksesibilitas pasar dinilai semakin baik, peluang pemulihan bobot serta peningkatan minat investor global dapat terbuka. Sebaliknya, ketidakpastian yang berkepanjangan dapat membuat sebagian dana asing memilih menunggu sebelum meningkatkan eksposur terhadap saham Indonesia.

Rebalancing September Bisa Jadi Momentum Penting

Investor perlu memperhatikan tanggal rebalancing karena perubahan portofolio berbasis indeks biasanya dapat meningkatkan aktivitas transaksi pada saham yang terdampak. Berdasarkan keputusan terbaru, rebalancing dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 18 September 2026 dan perubahan konstituen akan efektif pada pembukaan perdagangan Senin, 21 September 2026.

Namun, daftar tersebut belum sepenuhnya final. FTSE Russell menyatakan perubahan hasil tinjauan masih dapat direvisi hingga akhir perdagangan Jumat, 4 September 2026. Hasil evaluasi kemudian dianggap final mulai Senin, 7 September 2026.

Haji Isam Dikabarkan Siap Akuisisi 62,2 Persen Saham BYAN, Ada Apa di Balik Lonjakan Harga?

Investor Perlu Mencermati Fundamental Emiten

Keluarnya sebuah saham dari indeks global tidak otomatis menunjukkan bahwa fundamental perusahaan tersebut memburuk. Perubahan indeks dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, klasifikasi indeks dan ketentuan metodologi penyedia indeks.

Karena itu, investor sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan status sebuah saham di FTSE Russell. Kinerja keuangan, prospek bisnis, valuasi, likuiditas, struktur kepemilikan dan kondisi industri tetap menjadi faktor penting dalam menentukan daya tarik investasi.
Keputusan FTSE Russell untuk mencoret 29 saham Indonesia sekaligus menunda penambahan saham baru menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih berada dalam fase evaluasi dari investor dan penyedia indeks global. September akan menjadi periode penting karena proses rebalancing akan membawa perubahan nyata terhadap sejumlah saham yang terdampak. Di sisi lain, hasil akhir evaluasi dan perkembangan reformasi transparansi pasar akan menjadi penentu apakah kepercayaan investor global terhadap pasar Indonesia dapat kembali menguat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *