Bisnis Keuangan Kripto
Home » Indeks » The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Pelaku Pasar Tunggu Sinyal Desember

The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Pelaku Pasar Tunggu Sinyal Desember

The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Pelaku Pasar Tunggu Sinyal Desember
The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Pelaku Pasar Tunggu Sinyal Desember

Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve akhirnya kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam rapat FOMC akhir Oktober. Keputusan ini sudah lama diperdagangkan pasar sehingga tidak menimbulkan kejutan besar. Fed Funds Rate kini berada di kisaran 3,75 sampai 4 persen yang juga menjadi level terendah sejak siklus kenaikan agresif 2022. Motif utamanya tetap sama yaitu ekonomi Amerika mulai melambat, pasar tenaga kerja tidak lagi sepanas tahun lalu, dan tekanan likuiditas di sistem keuangan mulai terasa. Hal ini tampak dalam pembahasan internal The Fed tentang perlunya mengakhiri penyusutan neraca atau quantitative tightening agar cadangan perbankan tidak kian menipis.

Di sisi lain The Fed tidak ingin memberi sinyal bahwa penurunan suku bunga akan berlangsung otomatis setiap rapat. Itulah yang membuat kalimat panduan mereka lebih hati hati. Sumber pasar mencatat bahwa peluang pemangkasan lagi pada rapat Desember turun dari sekitar 90 persen ke kisaran 70 persen setelah pernyataan FOMC keluar. Artinya suku bunga The Fed hari ini sudah turun tetapi belum ada jaminan bahwa pemotongan berikutnya akan terjadi tepat di akhir tahun. The Fed ingin melihat lebih banyak data inflasi, ketahanan konsumsi rumah tangga, serta apakah perlambatan tenaga kerja berlanjut atau justru stabil.

Yang menarik dari rapat kali ini bukan hanya soal suku bunga The Fed. Dari kajian beberapa analis muncul pandangan bahwa penghentian QT akan membantu menstabilkan permintaan surat utang pemerintah Amerika, menurunkan risiko lonjakan imbal hasil, dan pada akhirnya membuat kebijakan moneter tidak terlalu menekan sektor keuangan. Bagi negara berkembang termasuk Indonesia, kondisi ini penting karena perbedaan imbal hasil Indonesia dan Amerika bisa tetap lebar sehingga mendukung stabilitas rupiah. Jika spread terjaga maka Bank Indonesia tidak harus buru buru mengikuti pemangkasan The Fed dengan besaran yang sama.

Bagi pelaku pasar modal, kabar bahwa the fed pangkas suku bunga sudah cukup menjadi alasan untuk masuk kembali ke aset berisiko. Laporan pasar pagi menunjukkan indeks saham Indonesia bergerak positif setelah keputusan tersebut karena pelaku pasar memperkirakan arus dana asing akan lebih berani masuk ketika tekanan dolar AS mulai reda. Saham perbankan yang sensitif pada biaya dana berpotensi menguat, disusul properti dan semen yang biasanya membaik ketika biaya pembiayaan turun. Analis juga mengingatkan potensi buy the rumour sell the fact sehingga kenaikan bisa saja tidak dalam karena sebagian pelaku pasar sudah posisi sejak September.

Untuk investor ritel, penurunan suku bunga the fed hari ini membuka ruang bagi instrumen campuran seperti reksa dana berbasis saham dan obligasi. Instrumen ini mendapat dua keuntungan sekaligus. Dari sisi saham ada potensi kenaikan valuasi akibat penurunan suku bunga. Dari sisi obligasi ada peluang penurunan imbal hasil yang menaikkan harga surat utang. Karena itu beberapa manajer investasi mulai menonjolkan produk campuran dan pendapatan tetap sebagai cara yang lebih santai memanfaatkan era suku bunga menurun tanpa harus memantau pasar harian.

Rupiah Tertekan, BI Diperkirakan Naikkan Suku Bunga Acuan demi Jaga Stabilitas Pasar

Tetapi ada dua risiko yang tetap harus dipantau. Pertama, inflasi Amerika belum benar benar kembali ke target dan faktor eksternal seperti tarif dagang masih bisa memicu kenaikan harga. Ini alasan mengapa pejabat The Fed menolak berkomitmen untuk langsung memotong pada Desember. Kedua, rilis data ekonomi Amerika akhir tahun ini kemungkinan tidak selengkap biasanya karena masih ada efek penundaan pelaporan. Jika data yang keluar kurang kuat maka The Fed bisa saja menunggu sampai awal 2026. Jadi pasar tidak bisa mengasumsikan jalur pemangkasan yang mulus.

Bagi Indonesia implikasinya cukup bersahabat. Jika The Fed berhenti menguras likuiditas, permintaan terhadap surat utang Amerika akan lebih stabil. Ini menahan kenaikan yield global dan memberi ruang bagi imbal hasil Surat Berharga Negara untuk turun bertahap. Ketika imbal hasil turun, valuasi saham berbasis dividen dan saham perbankan yang efisien akan terlihat lebih menarik. Rupiah pun mendapat penopang tambahan dari selisih imbal hasil yang tetap lebar dibanding obligasi Amerika. Di sisi perbankan domestik, penurunan suku bunga global biasanya berakhir pada biaya dana yang lebih rendah sehingga margin bunga bersih lebih terjaga.

Singkatnya, keputusan the fed pangkas suku bunga memang sudah diduga sehingga euforia pasar tidak besar. Namun keputusan ini menandai perubahan fase. Dari fase menahan agar inflasi turun, The Fed kini bergerak ke fase menjaga agar sistem keuangan tetap cair. Ini kabar baik bagi pasar negara berkembang, namun pelaku pasar harus sadar bahwa pemotongan berikutnya akan sangat bergantung pada data dan bukan pada kalender.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *