Minat masyarakat Indonesia terhadap kendaraan listrik terus menunjukkan tren positif. Berbagai survei terbaru mengungkap semakin banyak konsumen yang mempertimbangkan mobil listrik maupun hybrid sebagai kendaraan berikutnya. Meski demikian, kendaraan berbahan bakar bensin (Internal Combustion Engine/ICE) masih menjadi pilihan utama sebagian besar masyarakat karena sejumlah faktor praktis dan ekonomi.
Berdasarkan Deloitte 2026 Global Automotive Consumer Study, preferensi masyarakat Indonesia terhadap mobil bensin memang turun menjadi 55%, atau berkurang sekitar 7 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Di sisi lain, minat terhadap kendaraan listrik dan hybrid meningkat hingga 42%, menempatkan Indonesia di posisi ketiga di kawasan setelah Thailand dan Singapura.
Meski minat meningkat, adopsi kendaraan listrik masih menghadapi beberapa tantangan. Survei Deloitte menunjukkan tiga faktor utama yang membuat masyarakat belum sepenuhnya beralih, yaitu keterbatasan infrastruktur pengisian daya, harga kendaraan yang masih relatif tinggi, serta kekhawatiran mengenai kemudahan penggunaan kendaraan listrik dalam aktivitas sehari-hari. Sebagian besar calon pembeli juga berharap dapat mengisi daya kendaraan langsung dari rumah sebagai solusi paling praktis.
Di sisi lain, survei lain menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap kendaraan listrik semakin besar. Sekitar 7 dari 10 responden menyatakan tertarik memiliki kendaraan listrik di masa mendatang, terutama karena biaya operasional yang lebih hemat, perawatan lebih sederhana, serta manfaatnya dalam mengurangi emisi karbon.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga mulai mengubah perilaku sebagian masyarakat. Di sejumlah daerah, seperti Balikpapan, motor listrik semakin dilirik sebagai alternatif transportasi harian karena dinilai mampu menekan pengeluaran untuk bahan bakar sekaligus memiliki biaya perawatan yang lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional.
Pemerintah pun terus mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik melalui penambahan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), pemberian berbagai insentif, serta mendorong peningkatan kandungan lokal industri kendaraan listrik. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mempercepat transisi menuju transportasi rendah emisi.
Para analis menilai pasar otomotif Indonesia saat ini memasuki fase transisi. Mobil bensin masih mendominasi karena faktor harga, kemudahan pengisian bahan bakar, dan jaringan layanan purna jual yang luas. Namun, pertumbuhan minat terhadap kendaraan listrik menunjukkan bahwa konsumen mulai mempertimbangkan efisiensi biaya operasional dan teknologi ramah lingkungan sebagai faktor penting dalam keputusan pembelian.
Dengan dukungan infrastruktur yang semakin baik dan harga kendaraan listrik yang diperkirakan semakin kompetitif dalam beberapa tahun ke depan, pasar otomotif Indonesia diprediksi akan bergerak menuju era elektrifikasi secara bertahap tanpa meninggalkan kendaraan konvensional dalam waktu dekat.



Komentar