Tekanan inflasi Indonesia pada April 2026 diperkirakan mulai mereda setelah lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri. Namun di balik tren penurunan tersebut, ekonom mengingatkan adanya potensi risiko baru yang berasal dari kenaikan harga energi, khususnya bahan bakar minyak dan elpiji.
Sejumlah proyeksi menunjukkan inflasi tahunan akan turun dibandingkan Maret yang sempat mencapai 3,48 persen. Pada April, angka inflasi diperkirakan berada di kisaran 2,3 persen hingga 3 persen secara tahunan, mencerminkan normalisasi permintaan masyarakat setelah periode konsumsi tinggi.
Penurunan ini terutama dipicu oleh meredanya harga pangan. Komoditas seperti cabai, ayam ras, dan telur mulai mengalami penurunan harga seiring membaiknya pasokan di pasar. Kondisi ini memberikan ruang bagi stabilitas harga secara umum dan membantu menahan laju inflasi.
Selain faktor pangan, efek musiman pasca Lebaran juga menjadi penentu utama. Aktivitas konsumsi yang kembali normal membuat tekanan harga tidak lagi setinggi bulan sebelumnya. Hal ini diperkuat oleh basis perbandingan tahun lalu yang relatif tinggi sehingga inflasi tahun ini terlihat lebih rendah.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak sepenuhnya aman. Kenaikan harga BBM non-subsidi yang terjadi pada pertengahan April mulai memberikan tekanan pada kelompok harga yang diatur pemerintah. Dampaknya memang belum sepenuhnya tercermin pada inflasi bulan ini, namun berpotensi terasa lebih kuat pada bulan berikutnya.
Konsumsi energi memiliki porsi cukup besar dalam struktur pengeluaran masyarakat. BBM menyumbang sekitar 5 persen, sementara elpiji mencapai 20 persen dari total konsumsi. Perubahan harga pada sektor ini berpotensi memicu efek berantai terhadap biaya transportasi dan harga barang lainnya.
Di sisi lain, inflasi bulanan diperkirakan masih mencatat kenaikan tipis. Hal ini dipengaruhi oleh penyesuaian harga di beberapa sektor serta dampak awal kenaikan energi. Proyeksi menunjukkan inflasi bulanan berada di kisaran 0,3 persen hingga 0,4 persen.
Pasar kini menaruh perhatian besar pada rilis data resmi dari Badan Pusat Statistik yang akan menjadi indikator arah ekonomi selanjutnya. Selain inflasi, pelaku pasar juga mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan dinamika harga global yang dapat memengaruhi stabilitas domestik.
Ke depan, tantangan utama bukan lagi pada lonjakan konsumsi, melainkan pada faktor eksternal seperti harga energi global dan potensi gangguan pasokan pangan akibat perubahan iklim. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut dapat kembali mendorong inflasi naik pada kuartal berikutnya.
Dengan demikian, meski inflasi April menunjukkan tanda pelonggaran, risiko jangka pendek tetap perlu diwaspadai. Stabilitas harga energi dan ketahanan pasokan pangan menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.



Komentar