Dinamika perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal tahun 2026 kembali menghadirkan sorotan tajam pada aksi korporasi emiten. Kali ini, perhatian pelaku pasar tertuju pada PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk atau yang lebih dikenal dengan kode saham INET. Pergerakan harga saham perusahaan penyedia layanan infrastruktur konektivitas ini mengalami tekanan yang sangat signifikan. Penurunan harga tersebut terjadi tepat setelah otoritas bursa menetapkan harga teoritis sehubungan dengan rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I) atau yang lazim disebut dengan rights issue.
Pada perdagangan awal pekan ini, harga saham INET terpantau mengalami koreksi dalam atau anjlok hingga menyentuh kisaran 23 persen. Koreksi tajam ini membawa harga saham turun ke level Rp 472 per lembar saham. Penurunan drastis ini merupakan respons langsung pasar terhadap penyesuaian harga teoritis yang dilakukan pada saat ex-right. Sebagai informasi, harga teoritis adalah harga penyesuaian yang ditetapkan oleh bursa untuk menjaga kewajaran nilai saham setelah adanya penerbitan saham baru dalam jumlah besar dengan harga pelaksanaan yang berbeda dari harga pasar sebelumnya.
Aksi korporasi right issue inet ini memang tergolong jumbo dan sangat strategis bagi perusahaan. Berdasarkan prospektus yang telah diterbitkan, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk telah mengantongi restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,8 miliar lembar saham baru. Jumlah saham baru yang akan diterbitkan ini memiliki dampak yang sangat masif terhadap struktur permodalan dan kepemilikan saham perusahaan. Besarnya volume saham baru yang akan membanjiri pasar inilah yang memicu kekhawatiran di kalangan investor, terutama investor ritel yang memiliki keterbatasan dana untuk menebus hak mereka.
Salah satu isu utama yang menjadi momok bagi para pemegang saham lama adalah risiko dilusi. Dilusi kepemilikan saham dalam skenario right issue inet kali ini terbilang sangat besar. Jika pemegang saham existing memutuskan untuk tidak melaksanakan haknya atau tidak menebus saham baru yang ditawarkan, maka persentase kepemilikan mereka dalam perusahaan akan tergerus secara signifikan. Estimasi perhitungan menunjukkan bahwa risiko dilusi yang dihadapi investor yang tidak berpartisipasi bisa mencapai angka 57 persen. Angka ini menunjukkan bahwa porsi kepemilikan investor lama akan menyusut lebih dari separuhnya jika mereka memilih untuk pasif dalam aksi korporasi ini.
Risiko dilusi sebesar 57 persen tentu menjadi pertimbangan berat bagi investor. Hal inilah yang memicu aksi jual atau sell-off pada saat periode perdagangan cum date berakhir dan memasuki ex date. Banyak investor yang memilih untuk melepas kepemilikan mereka di pasar reguler daripada harus mengeluarkan dana tambahan untuk menebus saham baru atau membiarkan porsi saham mereka terdilusi begitu saja. Tekanan jual yang tinggi inilah yang kemudian memaksa harga inet terkoreksi tajam menyesuaikan dengan sentimen pasar dan harga teoritis yang baru.
Manajemen INET sendiri menyatakan bahwa dana yang diperoleh dari aksi korporasi ini akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Tambahan modal ini rencananya akan dialokasikan untuk ekspansi bisnis, pembayaran kewajiban, serta modal kerja guna mendukung operasional perusahaan yang semakin berkembang. Di tengah persaingan industri infrastruktur telekomunikasi yang ketat, suntikan dana segar memang sangat dibutuhkan untuk menjaga daya saing dan pertumbuhan kinerja perseroan di masa depan. Namun, pasar tampaknya lebih fokus pada dampak jangka pendek berupa penurunan harga saham dibandingkan potensi pertumbuhan jangka panjangnya.
Para analis pasar modal menyarankan agar investor bersikap hati-hati dan cermat dalam menyikapi volatilitas harga saham INET saat ini. Investor perlu menghitung kembali valuasi wajar perusahaan pasca rights issue dengan mempertimbangkan jumlah saham beredar yang semakin banyak. Peningkatan jumlah saham beredar tanpa dibarengi dengan kenaikan laba bersih yang sepadan tentu akan berdampak pada penurunan laba per saham atau Earning Per Share (EPS). Hal ini bisa membuat valuasi saham terlihat lebih mahal jika kinerja keuangan perusahaan tidak segera membaik setelah dana hasil rights issue diserap.
Bagi investor yang masih memegang saham INET, saat ini dihadapkan pada dua pilihan sulit. Pilihan pertama adalah menebus hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dengan menyetorkan sejumlah dana sesuai harga pelaksanaan yang telah ditetapkan. Langkah ini akan mempertahankan persentase kepemilikan mereka di perusahaan agar tidak terdilusi. Pilihan kedua adalah menjual hak tersebut di pasar negosiasi atau pasar tunai selama periode perdagangan HMETD berlangsung. Namun, perlu diingat bahwa harga jual hak tersebut juga akan sangat bergantung pada mekanisme pasar.
Kejatuhan harga hingga ke level Rp 472 ini juga menjadi ujian bagi level psikologis investor. Jika tekanan jual masih berlanjut, bukan tidak mungkin harga akan menguji level support yang lebih rendah lagi. Namun sebaliknya, jika pasar menilai bahwa harga saat ini sudah cukup murah atau undervalued dibandingkan dengan prospek penggunaan dana hasil right issue inet, maka potensi rebound teknikal bisa saja terjadi. Volatilitas tinggi diprediksi masih akan menyelimuti pergerakan saham ini hingga seluruh proses distribusi saham baru selesai dilaksanakan.
Secara keseluruhan, fenomena yang terjadi pada inet memberikan pelajaran penting bagi investor tentang mekanisme pasar modal. Bahwa setiap aksi korporasi, meskipun bertujuan baik untuk ekspansi perusahaan, selalu membawa konsekuensi bagi pergerakan harga saham di pasar sekunder. Penetapan harga teoritis adalah mekanisme wajar untuk menyeimbangkan nilai pasar, namun reaksi investor terhadap risiko dilusi sering kali memicu gejolak harga yang tidak terhindarkan. Para pelaku pasar kini menanti realisasi penggunaan dana hasil rights issue tersebut, apakah benar-benar mampu mendongkrak kinerja INET di masa mendatang atau justru menjadi beban baru bagi struktur keuangan perusahaan.



Komentar