Pembangunan Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap atau Tol Getaci kembali menjadi sorotan setelah proyek strategis tersebut belum juga menarik minat investor. Kondisi ini memunculkan ketidakpastian kelanjutan proyek yang digadang sebagai salah satu jalan tol terpanjang di Indonesia.
Menteri Pekerjaan Umum menyampaikan bahwa rendahnya minat investor tidak lepas dari proyeksi lalu lintas kendaraan yang dinilai kurang menjanjikan. Dalam skema investasi jalan tol, tingkat trafik menjadi faktor utama dalam menentukan kelayakan finansial proyek. Jika volume kendaraan rendah, potensi pengembalian modal juga semakin lama sehingga risiko investasi meningkat.
Selain faktor trafik, besarnya kebutuhan biaya konstruksi turut menjadi penghambat. Sejumlah segmen Tol Getaci, terutama pada jalur awal dari Bandung menuju Garut, dinilai memiliki struktur geografis yang kompleks. Kondisi wilayah berbukit dan rawan longsor membuat biaya pembangunan melonjak signifikan dibanding proyek tol di wilayah datar.
Pemerintah pun mulai mempertimbangkan langkah strategis dengan membuka opsi pengalihan anggaran. Dana yang semula direncanakan untuk mendukung konstruksi Tol Getaci berpotensi dialihkan ke proyek infrastruktur lain yang dinilai lebih mendesak, seperti pembangunan bendungan untuk pengendalian banjir di wilayah industri.
Kajian ulang terhadap proyek ini sebenarnya telah dilakukan sejak 2025. Evaluasi mencakup efisiensi biaya, proyeksi manfaat ekonomi, serta skema pembiayaan yang lebih realistis. Namun hingga kini, belum ada kepastian terkait jadwal lelang ulang maupun model investasi yang akan digunakan.
Di sisi lain, pengalaman sejumlah ruas tol yang sudah beroperasi namun masih sepi pengguna turut memengaruhi keputusan investor. Data menunjukkan puluhan jalan tol di Indonesia belum mencapai target trafik optimal, sehingga meningkatkan kehati-hatian dalam menanamkan modal pada proyek baru.
Meski demikian, Tol Getaci tetap memiliki nilai strategis dalam membuka akses wilayah Priangan Timur hingga Jawa Tengah. Proyek ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, mempercepat distribusi logistik, serta mengurangi ketimpangan pembangunan antarwilayah.
Ke depan, pemerintah dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan proyek dengan skema baru yang lebih menarik bagi investor atau memprioritaskan proyek lain yang memiliki dampak langsung dalam jangka pendek. Keputusan tersebut akan menjadi penentu arah pembangunan infrastruktur di kawasan selatan Jawa Barat dalam beberapa tahun mendatang.



Komentar