Saham emiten properti PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) kembali menjadi sorotan pasar setelah mencatat kinerja penjualan dan laba yang masih positif di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan. Menariknya, valuasi saham perusahaan milik grup konglomerasi tersebut saat ini dinilai sangat murah karena diperdagangkan dengan price to book value (PBV) sekitar 0,2 kali.
Valuasi rendah itu memicu perhatian investor karena secara fundamental perusahaan masih membukukan pendapatan dan laba bersih dalam jumlah besar. Pada kuartal I 2026, LPKR berhasil mencatat pendapatan sekitar Rp1,8 triliun dengan laba bersih mencapai Rp107 miliar.
Selain itu, pra penjualan atau marketing sales perseroan juga mencapai Rp1,95 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut setara sekitar 32 persen dari target tahunan perusahaan yang dipatok Rp6 triliun.
Permintaan rumah tapak masih menjadi penopang utama bisnis perseroan. Produk hunian segmen terjangkau hingga menengah dilaporkan mendominasi penjualan, terutama dari kalangan pembeli rumah pertama dan end-user. Kontribusi rumah tapak bahkan mencapai sekitar 84 persen dari total marketing sales kuartal pertama tahun ini.
Di tengah capaian tersebut, valuasi saham LPKR justru masih berada di level rendah. Berdasarkan data laporan keuangan dan pasar terbaru, PBV saham perseroan berada di kisaran 0,19 kali hingga 0,2 kali. Artinya, harga saham perusahaan diperdagangkan jauh di bawah nilai bukunya.
Kondisi ini membuat sebagian pelaku pasar menilai saham LPKR sedang berada di area undervalued. Terlebih, perusahaan masih memiliki aset besar dan sejumlah proyek township yang terus berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
Arus kas operasional perusahaan juga mengalami peningkatan sekitar 20 persen secara tahunan menjadi Rp499 miliar. Posisi kas perseroan tercatat mencapai Rp1,62 triliun pada akhir kuartal pertama 2026, menunjukkan likuiditas perusahaan masih cukup kuat.
Segmen lifestyle milik perusahaan turut memberikan kontribusi positif terhadap kinerja. Bisnis hotel, pusat perbelanjaan, dan fasilitas gaya hidup lainnya masih mencatat pertumbuhan stabil seiring meningkatnya jumlah pengunjung mal dan aktivitas masyarakat.
Manajemen LPKR juga terus mendorong pengembangan proyek baru untuk menjaga momentum penjualan. Beberapa proyek seperti Park Serpong Phase 7 dan Neo 5ense Collection di Cikarang menjadi salah satu andalan perseroan pada awal 2026.
Meski begitu, pelaku pasar masih mencermati tantangan sektor properti yang dipengaruhi kondisi suku bunga, daya beli masyarakat, hingga ketidakpastian ekonomi global. Faktor tersebut menjadi salah satu alasan mengapa valuasi saham properti masih cenderung rendah dibanding sektor lain.
Namun bagi sebagian investor, kondisi ini justru dianggap membuka peluang menarik untuk saham-saham properti dengan fundamental besar tetapi memiliki valuasi murah di pasar.



Komentar